Malam Tirakatan 17 Agustus 2020 Untuk Kemerdekaan RI-75 Tahun

Pidato Ir. Soekarno (Lahirnya Pancasila)

Maka dari pada itu, jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu menjadi satu realita, yakni jikalau kita ingin hidup menjadi satu bangsa, satu nasionalitas yang merdeka, ingin hidup sebagai anggota dunia yang merdeka, yang penuh dengan perikemanusiaan,  ingin hidup di atas dasar permusyawaratan, ingin hidup sempurna dengan sociale rechtvaardigheid, ingin hidup dengan sejahtera dan aman, dengan Ketuhanan yang luas dan sempurna, – janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya, ialah perjuangan, perjuangan dan sekali lagi perjuangan (Ir. Soekarno – Pidato Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945)

Salah satu tradisi seputar peringatan hari kemerdekaan RI, adalah diselenggarakannya “Malam Tirakatan”. Setidaknya kita dapat menjumpainya di beberapa area seputar Jateng – DIY. Sesuai dengan namanya, “tirakat” akan berlangsung dengan khidmat, disertai doa dan perenungan arti dari pengorbanan para pahlawan dan makna dari kemerdekaan Indonesia. Acara tirakatan pada umumnya diselenggarakan tidak hanya dalam lingkup kantor birokrasi saja, namun juga di kampung-kampung, hingga di level RT/RW. Di sinilah kita dapat melihat realitas masyarakat, sejauh mana arti dan semangat kemerdekaan itu di hati rakyat.

[su_dummy_image width=”990″ height=”450″ theme=”city”]

Menyambut ulang tahun kemerdekaan RI

–walaupun dengan label tirakat–

Kita melihat suasana yang tidak melulu soal merenung, namun juga semarak. Ada 2 sisi bagai sekeping mata uang dari seremoni memaknai ulang tahun kemerdekaan, yaitu doa dan perenungan di satu sisi, dan semarak pesta sebagai ucapan syukur di sisi yang lain. Semuanya itu terselenggara secara otomatis, tanpa tanpa harus dihimbau dan dikoordinasi oleh Pemerintah. Semuanya berjalan dengan sendirinya, dengan biaya dan tenaga sendiri tanpa paksaan. Bukankah ini dapat menjadi sisi positif kita sebagai bangsa, yang masih dapat merefleksikan arti nasionalisme dan kebanggaan sebagai bangsa merdeka ?

Suasana malam tirakatan biasanya tidak berhenti pada hari itu, namun sudah dipersiapkan jauh hari. Menyambut kemerdekaan, identik dengan kerja bakti membersihkan lingkungan, mengecat ulang gapura, dan pagar, serta memasang bendera. Suasana lain diseputar peringatan hari kemerdekaan  adalah hadirnya acara bazaar  17-an, yang paling afdol ditutup pada tanggal 16 Agustus malam, yang bersamaan dengan malam tirakatan. Ada sebuah panggung di tengah acara bazaar, yang menjadi pusat acara. Di situ akan dilantunkan lagu Indonesia Raya dengan khidmat, panjatan doa syukur sebagai bangsa merdeka, perenungan terhadap jasa para pahlawan bangsa dan semangat lagu-lagu perjuangan, barangkali itulah menu utamanya. Namun, kita dapat juga menyaksikan acara lainnya, seperti penampilan tari-tarian, puisi perjuangan, festival band atau barangkali drama perjuangan, dan pengumuman serta penyerahan hadiah lomba-lomba yang sudah diselenggarakan sebelumnya. Itulah ketulusan pemaknaan dari kemerdekaan ala masyarakat, yang menyisakan kebanggan kita sebagai bangsa di tengah berita-berita miris di sekitar kita, seperti korupsi dan suap menyuap, kekerasan, ketahanan pangan yang rapuh, kemiskinan dan lain sebagainya.

Walaupun terkesan sekedar seremoni, namun semarak dan khidmatnya peringatan hari kemerdekaan di kampung-kampung ini membuat saya dapat belajar beberapa hal :

Pertama

Nasionalisme kita belum mati. Kita masih punya kebanggaan sebagai bangsa, masih memiliki penghargaan terhadap para pahlawan bangsa, walaupun itu di tengah situasi berbangsa yang penuh keprihatinan, dengan semakin langkanya sosok pahlawan yang tulus dan pengorbanan tanpa pamrih di negeri ini. Bukankah yang rela berkorban itu justru rakyat, yang bersedia  menyumbangkan tenaga dan dana untuk sebuah pemaknaan kemerdekaan ?

Kedua

Kita patut bersyukur dalam situasi apapun masyarakat kita masih memiliki kesadaran untuk berbangga sebagai bangsa yang merdeka, yaitu bangsa yang memiliki harga diri yang setara dengan berbagai bangsa di dunia. Makna besar inilah yang membuat hari kemerdekaan senantiasa dengan rela diperingati, disyukuri dan doakan. Bukankah sudah banyak dari kita yang lupa untuk mensyukuri kemerdekaan dengan tidak dapat menjaga martabat bangsa di mata dunia ? Kita patut bersedih dengan label negara korup, negara gagal dan label negatif lainnya.

Ketiga

Malam tirakatan setidaknya membuat kita berhenti sejenak untuk mengingat para pendiri bangsa ini, bahkan lebih jauh lagi para pahlawan yang berjuang dari abad ke abad. Mereka itu adalah sosok-sosok yang berkorban jiwa dan raga, sosok yang berjasa tanpa pamrih dan benar-benar memikirkan Indonesia merdeka demi berdirinya negara Indonesia. Sungguh patut kita renungkan nilai hidup yang demikian di tengah semakin banyaknya orang yang berjuang demi kekuasaan dan kepentingan kelompoknya sendiri.

Keempat

Sekalipun sederhana, setiap kemeriahan bazaar, persiapan panggung gembira, lomba-lomba yang penuh canda tawa, mengingatkan kita akan nilai kegotongroyongan, yang disebut-sebut sebagai nilai luhur bangsa yang sudah menjadi budaya nenek moyang kita.  Semoga semangat gotong royong ini masih ada.

Namun

Menjelang peringatan ke-75 hari Kemerdekaan Indonesia ini, kita tidak sekedar berpesta, bersyukur kepada Tuhan untuk kemerdekaan Indonesia. Kita juga perlu bertirakat dengan merenungkan kembali betapa susah payahnya negara ini berdiri, betapa banyaknya pengorbanan yang telah direlakan demi kemerdekaan. Patut pula kita berdoa memohon kepada Tuhan, supaya Indonesia dapat menatap masa depan yan g lebih baik, kembali pada cita-cita membangun jembatan emas menuju masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.

Satu kata untuk mencapainya : perjuangan, perjuangan dan sekali lagi perjuangan !

Dengan kondisi saat ini di Indonesia bahkan didunia masih dalam situasi pandemi Covid-19, saya bahkan mungkin banyak orang tidak mampu berbuat banyak untuk semua itu. Tetapi semangat kemerdekaan tetap tersimpan selamanya didalam dada ini.

Kupanjatkan do’a saya untuk Indonesia tercinta :

YA Allah Ya Tuhan Kami…

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) lahir pada 17 Agustus 1945 karena berkah dan karunia-Mu, maka jagalah NKRI ini Ya Allah.

Dulu, NKRI hanyalah kerajaan-kerajaan terpisah yang kini Engkau satukan.

Dulu, Negara Hindia-Belanda yang dikuasai kolonialisme kini Engkau ubah menjadi NKRI yang mandiri dan berdikari.

Maka, jagalah bangsa dan negara ini dari rongrongan yang bisa membuat perpecahan.

Jagalah bangsa dan negara ini dari fitnah yang bisa mencerai-berai persatuan dan kesatuan.

Muliakan para pendahulu kami yang berjuang dengan segenap jiwa dan raganya ya Allah.

Muliakan para leluhur kami yang dulu pernah menciptakan peradaban paling besar dan agung ya Allah.

Muliakan para pemimpin kami yang selalu berjuang untuk rakyatnya ya Allah.

Maafkan kami jika salah dalam melanjutkan perjuangan para pahlawan bangsa ya Allah.

Bimbinglah kami ke jalan yang benar, jalan yang Engkau ridhoi, bukan jalan yang Engkau murkai.

Bimbinglah kami untuk mengisi kemerdekaan dengan kemanfaatan, bukan kemudhorotan.

***

Ya Allah, keberagaman dan kemajemukan NKRI adalah karunia-Mu.

Karunia yang dulu pernah diperjuangkan Baginda Muhammad SAW melalui piagam Madinah.

Maka, teguhkan jiwa kami untuk melanjutkan perjuangan Baginda Muhammad SAW dengan Pancasila di negeri ini.

Perjuangan yang bertumpu pada perdamaian, keadilan dan kebenaran atas nama kemanusiaan.

Ingatkanlah kami, tegurlah kami jika selama ini kami saling membenci, saling memusuhi dan saling menebar fitnah kepada saudara sendiri.

Bimbinglah kami untuk menjadikan NKRI menjadi bangsa besar, bangsa agung yang bermartabat dan disegani negara lain.

Ya Allah, ampuni kami, bimbinglah kami dan berkahi kami.

Selamat ulang tahun Indonesia.

 

Renungan : OPD/SID/SITIREJO

About Sitirejo-Tambakromo 342 Articles
Mewujudkan Transparansi, Mempromosikan, Membantu Menduniakan Desa